Hari sudah pagi. Tapi rasanya aku malas sekali untuk beranjak dari tempat tidur. Ditambah lagi dengan mimpi buruk ku semalam. Semakin malas untuk beraktivitas. Ingatan yang dulu telah hilang, perlahan muncul kembali seperti memberi tanda.
"Reza bangun nak. Nanti kamu kesiangan sekolahnyah, ayo cepat". Ibuku berteriak.
"iya bu, ini juga sudah bangun kok". Jawabku.
Iya itu adalah ibuku. Walau terkadang dia bawel, tapi dia selalu mengerti aku.
Setelah aku siap untuk berangkat sekolah, tiba tiba hp ku bergetar.
"eh lo dimana? Mau sekolah gak? Gue tunggu lo di pos satpam. Hurry up boy!!".
Pesan singkat dari sahabatku, sahabatku dari kecil Rezi.
Aku pun bergegas menuju sekolah. Sesampainya disekolah, aku langsung menghampiri Rezi yang sudah menungguku dari tadi.
"lo lama banget sih. Sampe kumisan gue nunggu nya". Kata Rezi.
"sorry, sorry. Lah emang kan lo udah kumisan dari dulu juga?".jawabku.
"emang kenapa lo bisa siang sih datangnya?".tanya Rezi heran.
"semalam gue mimpi buruk, ditambah gue...".belum selesai ucapanku.
"kenapa?? Galau?? Euh kebiasaan!!". Kata Rezi memotong ucapanku.
"gue gak biasa kali galau, ayo ke kelas kita nanti terlambat".jawabku sambil tertawa.
Bel tanda dimulainya pelajaran pun berbunyi. Guru pun memasuki ruang kelas.
"anak-anak, akan ada murid baru dikelas kita. Bapak harap kalian dapat berteman baik dengannya. Ya silahkan masuk". Ucap guruku
"semoga saja murid baru itu perempuan, supaya lo gak jomblo lagi?".kata Rezi sambil menatapku.
Aku hanya diam, menghiraukan ucapannya.
"lo lupain masa lalu. Itu jaman SMP masi keinget juga? move on za , move on". Kata Rezi
Aku hanya menatap Rezi.
"memang benar apa yang diucapkannya. Aku masi belum bisa lupa sepenuhnya terhadap wanita yang dulu kucinta, cinta pertama ku. Bahkan sampai saat ini pun aku masih menyayanginya". Kataku dalam hati.
Tiba-tiba Rezi seperti terkejut melihat hantu.
"dia, dia?". Ucap Rezi gagap.
Aku menghiraukan apa yang dilihatnya. Aku hanya sibuk mengambil buku dalam tas ku.
"selamat pagi, perkenalkan nama saya marisa melinda oktavia. Salam kenal".seseorang berkata di depan kelas.
Aku pun terdiam. Seperti tak percaya apa yang telah kudengar.
"suara itu? Nama itu? Apakah betul dia?".dalam batinku.
Setelah aku memalingkan wajahku kedepan kelas. Ternyata memang dia. Dia telah kembali, Rezi pun menatapku.
"tenangin diri lo, gue tahu perasaan lo?". Rezi menenangkanku.
"silahkan duduk disana disamping Sucita". Kata guruku.
pelajaran pun dimulai. Tapi aku tak bisa fokus. Aku selalu teringat masa lalu, tentang dirinya, apa yang dilakukannya, dan kenapa dia sekarang kembali?.
Pelajaran demi pelajaran telah berganti, aku tak sabar ingin secepatnya pulang. Disaat jam istirahat, orang lain sibuk memperkenalkan diri padanya, sedangkan aku sibuk menghindarinya.
Dan bel pulang yang kutunggu pun berbunyi. Disaat aku hendak beranjak dari tempat duduk ku.
"Reza?". Seseorang memanggilku.
Aku pun terdiam. Kenapa dia harus memanggilku. Aku hanya menengok kebelakang.
"apa kabar? Sekarang kamu tinggi ya? Rezi apa kabar? Sudah 2 tahun ya tidak berjumpa?". Ucap marisa.
"kita berdua baik ko, iya kan za?". Ucap Rezi.
Aku tetap diam.
"kamu kemana aja? Pergi ko gak ngasih kabar?" tanya Rezi.
Disaat merisa akan menjawab.
"aku mau pulang ya, aku cape?" kataku ketus.
Aku meninggalkan Reza dan Marisa.
"maaf ya, Reza kaya begitu akhir akhir ini". Kata Rezi.
"Oh iya tak apa". Jawab Marisa sambil tersenyum.
Sesampainya dirumah. Aku langsung rebahan di kasur. Bayangan wajahnya muncul dibenakku.
Cinta pertamaku bahkan sampai saat ini. Pergi tanpa kabar, hilang bagai di telan bumi. Tapi kini muncul kembali.
Aku masih ingat kenangan manis yang dulu pernah kita lewati.
Disaat kamu kembali, ada perasaan sedih dan senang , kesal pun ada.
Ternyata firasat itu benar.
Ingatan yang memudar kini terlihat jelas kembali.
Ingatan yang dulu pergi, kini telah kembali.
Keesokan harinya, aku bangun pagi sekali. Lebih pagi dari biasanya. Aku pun lekas bersiap siap untuk sekolah. Seperti ada yang menyuruhku untuk datang lebih pagi.
Jam sudah menunjukan pukul 6 pagi.
"ibu, reza berangkat ya". Sambil mencium tangannya.
"ini bekalnya ketinggalan, habisin ya nak". Ucap ibuku sambil tersenyum.
"pasti bu. Masakan ibu kan paling enak". Ucapku sambil berangkat ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, sekolah begitu sepi. Tentu saja, ini pukul 6 pagi. Masih begitu sepi.
Sesampainya dikelas, aku mendengar ada yang menyanyi di ruang kelasku.
"kita sadar ingin bersama, tapi tak bisa apa apa".
Lagu dan suaranya, iya ini suara Marisa. Lagu yang diberikan Marisa tepat 1 hari sebelum dia menghilang. Tulus-sepatu, iya itu lagunya, sekarang aku ingat
Aku pun memberanikan diri untuk masuk kelas.
"Reza?". Marisa nampak kaget.
"maaf ya soal kemarin, lagi bete". Jawabku.
"harusnya aku yang meminta maaf". Ucapnya.
Aku terdiam, pura-pura tidak terjadi apa apa.
"untuk apa?". Kataku.
"dulu". Jawabnya.
Mukanya langsung menampakan wajah kesedihan, aku bingung harus berbuat apa.
"dulu kenapa? Perasaan kan gak terjadi apa apa?". Kataku
"maaf". Katanya sambil meneteskan air mata.
Aku semakin dibuat salah tingkah olehnya. Aku tak tahu apa yang terjadi padanya.
"kamu kenapa?". Tanyaku gagap.
"maaf soal hilang tanpa kabar, 2 tahun lalu". Jawabnya.
Dia masih tetap menangis. Hatiku masih membatu walau sebenarnya ingin memeluknya, untuk menenangkannya.
"udah maafin aja kali za".
Suara Rezi mengagetkanku. Aku masih terdiam.
"dia dulu ninggalin lo tanpa kabar, dia sakit kanker za.". Ucap Rezi.
Aku terkejut, aku pun menatap Marisa yang masih menangis.
"dia harus operasi za, dia gak mau lo khawatir". Kata Rezi.
Aku terus menatap Marisa. Aku marah, kesal, sedih. Kenapa aku, sebagai kekasihnya sendiri tidak tahu.
"kenapa kamu gak cerita sama aku sa?, lo juga zi, lo tahu tapi gak ngasih tahu gue?". Ucapku kecewa.
"biar gue yang jelasin za, gue tahu berada di pihak Marisa atau pun lo itu berat". Kata Rezi.
"terus sekarang kamu udah sehat? Udah sembuh?". Tanyaku pada Marisa.
"dia udah sehat za,dia berjuang keras,dia operasi diluar negeri dan memutuskan untuk pindah sekolah za". Ucap Rezi.
"kenapa lo sebagai sahabat gue? Lebih tahu daripada gue pacarnya?". Jawabku.
Keadaan pun hening, aku menatap Marisa dan kemudian Rezi. Aku masih menunggu jawaban.
Tiba tiba Seseorang memecah keheningan.
"aku gak mau kamu khawatir za" kata Marisa.
"ya za, dia 2 tahun ini nanya kabar lo lewat gue, gue juga tahu dia bakal pindah kesini. Makanya gue sms lo biar datang cepet". Ucap Rezi
Aku pun menyesal telah berpikir buruk tentangnya. Dalam hatiku masih terukir namanya, sejak dulu.
"kamu masih mau kan? Kembali sama aku?" tanyaku pada Marisa
"Kembali untuk apa?". Jawab Marisa ketus.
Aku terkejut mendengarnya. Hatiku seolah hancur.
"jangan kaget dulu. Buat apa kembali? Kita masih jadian kan dari dulu juga? Emang ada yang bilang putus?". Kata Marisa sambil tersenyum.
Untuk kedua kalinya aku terkejut, tapi yang ini membahagiakan.
"kamu ya, dari dulu nyebelin". Jawabku.
Aku pun mencubit kedua pipinya yang membuat ku gemas.
Sekolah pun mulai ramai.kami bertiga bertingkah seolah tak terjadi apa apa.
Dan aku pun telah salah menilai tentang orang yang aku cintai. Ternyata dia akhirnya kembali. Percayalah pada orang yang kau cintai. Karena orang yang tulus mencintaimu selalu melakukan yang terbaik untukmu. Bukan menyakitimu
Tamat.
No comments:
Post a Comment