"Har, aku mau kita putus"
Ucapan itu keluar dari mulut pacarku, Manda.
"ta . . tapi . . tapi . . . , atas dasar apa kamu mau kita putus nda?" jawabku.
"aku pikir kita udah gak sama, udah gak kaya dulu lagi, Beda!" jawabnya tegas
"bukannya kamu ya yang udah gak sama kaya dulu? , berbeda?". Jawabku dengan pelan.
Lalu kita berdua saling terdiam satu sama lain. Cukup lama kita terdiam, sampai Manda memecah keheningan itu.
"maaf Har. Tapi aku jatuh cinta lagi, aku mau kita putus." kata Manda singkat.
Aku hanya terdiam, tak percaya ini bakalan terjadi. Padahal hubungan aku dan Manda selama ini baik-baik saja, tapi harus berakhir seperti ini.
Lalu aku pun pergi, entah aku mau pergi kemana. Aku memacu motorku dengan kecepatan tinggi, namun entah apa yang terjadi, mungkin karena aku sedikit melamun. Tiba-tiba saja ada cewek tepat di depan jalanku. Namun untunglah aku berhasil menghindar dan tak menabraknya. Aku pun berhenti dan membuka helm ku.
"kalo nyebrang liat-liat dong, untung aja kan tadi gak gue tabrak." kataku kesal.
Mukanya hanya tertunduk dan seperti orang yang baru menangis. Tanpa kata apapun dia pergi begitu saja.
"gila kali ya itu cewek." kataku dalam hati.
Aku pun memutuskan untuk mampir di sebuah cafe, aku masih memikirkan Manda dan sedikit kaget juga mau nabrak orang. Betapa sialnya aku di hari ini.
"pesan apa mas?"
Seseorang memecah lamunanku. Ternyata pelayan yang memecah lamunanku.
"teh manis aja ya." jawabku.
"biasanya juga kopi, ko tumben teh manis?" jawab pelayan itu sambil tersenyum.
Aku hanya membalas dengan senyum tipis. Mungkin kopi terlalu pahit untuk diminum di saat seperti ini, pikirku.
Disaat aku masih melamun tiba-tiba ada yang memecah lamunanku lagi.
"maaf, sendirian?" tanyanya padaku.
Tanpa melihat wajahnya, aku pun menjawab dengan singkat.
"iya sendirian, kenapa?"
"boleh duduk disini?" jawabnya lagi.
"iya silahkan" jawabku.
Dan disaat dia duduk, aku melihat wajahnya. Ternyata dia adalah orang yang mau kutabrak tadi.
Disaat aku mau marah marah sama dia, tiba tiba. .
"maaf ya soal tadi, gue lagi ada masalah jadi aku gak fokus. Nyebrang aja gak liat-liat". Katanya.
"eh emm emm iya gapapa ko, lagian aku juga yang salah ko, tadi nyetirnya agak ngelamun juga". Jawabku grogi.
Entah apa yang terjadi, aku dibuat grogi olehnya.
"sering kesini juga?" tanya dia.
"ya lumayan lah, kalo lagi bete gue suka kesini" jawabku.
"ko gue gak pernah liat ya?" jawabnya.
Dan pelayan pun datang.
"ini teh manis nya mas. Mas Hari, pacar barunya mbak Hana ya?" kata pelayan.
"so tau lu ah" jawabku singkat.
"lu gak suka kopi? Biasanya cowok demen tuh sama kopi?" kata si cewek.
"lagi gak mood" jawabku singkat.
"mbak Hana mau pesen apa?" kata si pelayan.
"teh manis juga deh" jawabnya.
"tumben juga gak ngopi" kata si pelayan sambil pergi.
"lu juga suka ngopi?" tanyaku.
"suka cuma lagi gak pas" jawabnya.
"maksudnya?" tanyaku heran.
"mungkin kopi terlalu pahit untuk diminum disaat seperti ini, gue baru diputusin" jawabnya dengan tatapan nanar
Entah kenapa apa yang dipikirkan dan dirasakannya sama dengan apa yang aku rasa.
"nah elu sendiri kenapa?" tanya dia
Aku pun gelagapan ditanya begitu.
"sama" jawabku singkat.
Tiba-tiba dia memegang erat tanganku dan berkata.
"tenang aja, entar juga bakalan ada ko yang sayang sama elu dan cocok sama elu" katanya sambil tersenyum.
"mungkin juga elu orangnya" jawabku dalam hati.
Entah kenapa disaat dia melakukan hal itu, aku ngerasa nyaman banget. Senyumannya manis sekali.
Namun lamunan ku terpecah ketika dia bertanya lagi.
"eh iya gue Hana, elu siapa?" tanya dia
"gue Hari, salam kenal ya". Jawabku sambil bersalaman.
dia hanya tersenyum.
Sepertinya aku tak ingin pernah pergi dari tempat ini. Aku nyaman sekali mendengar dia berbicara dan berbincang bincang. Aku mencoba mengumpulkan berbagai alasan agar dia tetap disini namun entah alasan apa yang tepat agar dia tetap disini.
Namun disaat kita berdua menatap ke jendela, Hujan mulai turun. Kita berdua saling menatap dan tersenyum. Mungkin hujan adalah alasan agar kita terus bersama dan disaat hujan itu pula aku menyadari, aku jatuh cinta lagi. . . .
To be continue . . .